Cari Di Sini...

Memuat...

Geologi Dasar

BAB I PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN
GEOLOGI ..........................................................................................
BAB II PLANET BUMI ......................................................................
BAB III TEKTONIK LEMPENG .......................................................
BAB IV DEFORMASI KERAK BUMI ..............................................
BAB V KEGEMPAAN .......................................................................
BAB VI BATUAN DAN MINERAL ..................................................



BAB I
PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN GEOLOGI


Kata Geologi pertama kali dipergunakan pada Tahun 1473 oleh Richard de Bury untuk Hukum atau Ilmu Kebumian.

Asal kata Geologi:
- Geos : Bumi
- Logos : Ilmu
Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi

 Batasan Pengertian/Definisi Geologi menurut beberapa ahli:
1. Katili (1970)
Geologi adalah pengetahuan bumi yang menyelidiki lapisan-lapisan batuan yang ada di dalam kerak bumi.
2. Noer Aziz M., dkk. (2002)
Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi dan merupakan kelompok ilmu yang mempelajari bumi secara menyeluruh, asal mula, struktur, komposisi, sejarahnya (termasuk perkembangan kehidupan) dan proses-proses alam yang telah dan sedang berlangsung, yang menjadikan keadaan bumi seperti sekarang ini.
3. Holmes (1965)
Geologi merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang evolusi bumi secara menyeluruh beserta penghuninya, sejak awal pembentukannya hingga sekarang, yang dapat dikenali dalam batuan.


Cabang-cabang pengetahuan Ilmu Geologi:
1. Mineralogi
Mempelajari minerala-mineral, komposisi, bagaimana terjadinya, struktur kristal dan sifat-sifat fisiknya.
2. Petrologi
Ilmu yang mempelajari batuan, asal mula kejadiannya, struktur dan tekstur, klasifikasi atau pengelompokan berbagai macam batuan yang terdapat di atas permukaan bumi.
3. Stratigrafi
Ilmu yang mendiskripsi dan mempelajari perlapisan batuan, penyebarannya, komposisi, ketebalan, umur, keragaman dan korelasi lapisan batuan.
4. Paleontologi
Ilmu yang mempelajari fosil dan sisa-sisa dari jejak kehidupan masa lalu.
5. Geologi Struktur
Ilmu yang mempelajari bentuk dan konfigurasi batuan di kerak bumi yang terdeformasi, dimana lapisan batuan terpatahkan, tergeser atau terlipat menjadi pegunungan lipatan.
6. Geomorfologi
Ilmu yang mempelajari bentuk muka bumi dan proses-proses alam yang membentuknya, menganalisis dan menginterpretasi sejarah bentang alamnya.
7. Geofisika
Ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisik bumi secara keseluruhan termasuk kegempaan, gaya berat, kemagnitan, gradien suhu dan sebagainya.
8. Geokimia
Ilmu yang mempelajari komposisi (kimia) bumi,keberadaan unsur-unsur isotop di bumi dan penyebaran unsur-unsur tertentu di berbagai tempat.
9. Geologi Ekonomi
Ilmu yang mempelajari adanya penyebaran dan terjadinya mineral-mineral ekonomis, menghitung cadangan serta nilai ekonomis cebakan mineral.
10.Geologi Teknik
Ilmu yang mempelajari geologi untuk kerekayasaan dan erat hubungannya dengan rekayasa sipil.

SKEMA LINGKUP GEOLOGI


 Dalam mempelajari Geologi didasarkan pada fenomena yang terekam dalam batuan/litologi.

LITOLOGI
Bates dan Jackson (1985), mengartikan litologi menjadi 2:
1. Litologi adalah deskripsi batuan pada singkapan berdasarkan karakteristiknya, seperti: warna, komposisi mineral dan ukuran butir sinonim dengan Petrografi.
2. Litologi adalah karakteristik fisik dari batuan.

BATUAN
Batuan ialah segala macam material padat yang menyusun kulit bumi, baik yang telah padu maupun masih lepas.
Material padat dapat terjadi dari agregat mineral yang tersusun oleh 1 macam mineral maupun dari berbagai mineral.
MINERAL
Mineral merupakan suatu unsur atau persenyawaan anorganik yang terbentuk secara alami, yang memiliki struktur internal teratur, komposisi kimia, bentuk kristal dan sifat fisik tertentu yang menjadi karakteristiknya.

Sejarah Ilmu Geologi
1. Teori Malapetaka (Katastrofa)
Sepanjang abad 17 dan 18 doktrin katastrofisme sangat popular, sehingga para penganutnya percaya bahwa:
Bentuk permukaan bumi dan segala kehidupan di atasnya terbentuk dan musnah dalam sesaat akibat suatu bencana (Catastroph) besar.
Teori di atas bertahan hingga pertengahan abad 18, hingga muncul Generelli yang mengemukakan bahwa:
Sejarah bumi ini berlaku tidak dengan jalan kekerasan, tetapi kejadian pada masa lampau dapat dijelaskan dengan bertitik tolak pada kejadian” zaman sekarang.

2. Teori Uniformitarisma (Uniformitarianisme)
James Hutton (1726 – 1979), menyelidiki proses sedimentasi yang terjadi di sungai, danau maupun pantai di daerah Skotlandia. Menyimpulkan bahwa:
Kenampakan yang dijumpai pada batuan sedimen yang terbentuk pada masa lampau dijumpai pula pada proses pembentukan sedimen yang terjadi sekarang.
Dari kesimpulan di atas, diperoleh suatu teori Konsepsi uniformitarisma, yaitu waktu sekarang adalah merupakan kunci pada masa lampau (present is the key to the past). Dengan demikian jika pada waktu sekarang terjadi proses pelapukan, pengangkatan, pelipatan maupun sedimentasi, maka proses tersebut pernah terjadi juga pada waktu lampau.

3. Hukum Steno
Steno ahli geologi Italia, mengadakan pengamatan di beberapa jeram sungai di Italia dan sepanjang pantai Italia. Hasilnya mengemukakan 3 buah hukum yang berlaku untuk batuan sediment, yaitu:
a. Hukum Superposisi, menyatakan bahwa pada batuan sedimen dalam kedudukan yang belum berubah, bagian atas merupakan bagian yang relative muda dibandingkan dengan bagian bawah dalam satu seri sedimentasi.
b. Hukum Kejadian Horisontal, menyatakan bahwa dalam 1 seri perlapisan pada saat mula terbentuk, mempunyai kedudukan horisontal. Apabila ternyata lapisan tersebut sudah membentuk sudut dengan bidang horisontal, menunjukkan bahwa perlapisan tersebut pernah terangkat.
c. Hukum Kejadian Menerus, menyatakan bahwa dalam proses sedimentasi akan dihasilkan perlapisan yang sama tebal apabila tidak terjadi usikan/gangguan di tempat terjadinya (dalam cekungan sedimentasi).

4. Hukum Hubungan Potong Menyilang (Cross-Cutting Relationship).
Di alam sering dijumpai kenampakan suatu patahan dipotong oleh patahan lain, suatu seri batuan sedimen dipotong oleh patahan, suatu seri batuan sedimen dipotong oleh dike batuan beku. Dalam hal demikian dapat ditentukan mana yang terjadi lebih dahulu dengan bertitik tolak pada Hukum Hubungan Potong Menyilang.

Diagram di atas, memperlihatkan suatu perlapisan batuan yang terpotong oleh batuan lainnya. Urutan peristiwa geologi sesuai dengan urutan abjad.

5. Skala Waktu Geologi
Giovani Arduino (1970) mengusulkan pembagian skala waktu geologi menjadi:
a. Primer (tertua)
b. Sekunder (menengah)
c. Tersier (termuda), dan
d. Kwarter (lebih muda dari tersier)
Pada perkembangan selanjutnya istilah primer dan sekunder tidak dipergunakan hingga sekarang.
Dasar pembagian skala waktu geologi menjadi Kurun, bertitik tolak dari ada dan belum adanya kehidupan yang nyata.
a. Kurun Kriptozoikum, belum dijumpai adanya suatu kehidupan yang nyata.
b. Kurun Fanerozoikum, sudah nyata ada kehidupan.
Dasar pembagian skala waktu geologi menjadi Masa didasarkan atas adanya perkembangan kehidupan yang sudah nyata.
a. Masa Azoikum (a = tidak, zoon = kehidupan), masa dimana pada dasar semua sedimen dijumpai batuan yang sama sekali tidak mengandung fosil.
b. Masa Proterozoikum (Proto = masa lampau), masa dimana pada lapisan-lapisan batuan hanya mengandung sisa-sisa bentuk kehidupan yang masih sangat sederhana, terutama tumbuhan tingkat rendah yang menghasilkan gamping.
MasaAzoikum dan Masa Proterozoikum sulit dibedakan, sehingga kadang-kadang dijadikan satu masa, yaitu Masa Arkeozoikum.
c. Masa Paleozoikum (paleo = tua/kuno), masa dimana pada lapisan-lapisan batuan sudah terdapat jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang, tetapi semua jenis kehidupan tersebut kini sudah tidak terdapat lagi/punah.
d. Masa Mesozoikum (mesos = masa tengah), masa dimana pada lapisan-lapisan batuan sudah terdapat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang erat hubungan kekeluargaannya dengan yang ada sekarang, meskipun sejumlah besar dari jenis-jenis tersebut kini telah punah. Masa ini mempunyai bentuk-bentuk Reptilia raksasa sebagai penciri utama.
e. Masa Kenozoikum (kainos = baru), masa dimana pada lapisan-lapisan batuan sudah terdapat sisa-sisa kehidupan yang menunjukkan suatu permulaan pembentukan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang sekarang, dijumpai binatang menyusui dan binatang lunak yang kini masih hidup.
Setiap masa dibagi-bagi menjadi beberapa zaman. pembagian menjadi zaman terutama didasarkan atas kumpulan kehidupan yang terkhususkan. Misal: Didasarkan atas nama wilayah tipe tempat dimana singkapan untuk zaman tersebut tersingkap, seperti: Devon, Perm, Yura.
Tabel 1. Skala Waktu Geologi
KURUN MASA ZAMAN KALA
Fanerozoikum Kenozoikum Kwarter Holosen
Pleistosen
Tersier Neogen Pliosen
Miosen
Paleogen Oligosen
Eosen
Paleosen
Mesozoikum Kapur Lihat Tabel 2
Jura
Trias
Paleozoikum Perm Lihat Tabel 3
Karbon
Devon
Silur
Ordovisium
kambrium
Kriptozoikum Arkeozoikum




Tabel 2. Pembagian Mesozoikum
ZAMAN KALA WAKTU
Kapur Atas Maastrichtian
Campanian
Santonian
Coniacian
Turonian
Cenomanian
Bawah Albanian
Aptian
Barremian
Hauterivian
Valangian
Berrasian
Jura Atas Portlandian
Kemmeridgian
Oxfordian
Tengah Callovian
Bathonian
Bajician
Bawah Aalenian
Tarcian
Plinsbachian
Sinemurian
Hattengian
Trias Atas Rhaetian
Norian
Tengah Carnian
Ladinian
Anisian
Bawah Schytian
Tabel 3. Pembagian Paleozoikum
ZAMAN KALA WAKTU
Perm* Atas Tatarian
Kazanian
Tengah Kungurian
Bawah Artinskian
Sakmarian
Karbon* Atas Stephanian
Westphalian
Namurian
Bawah Visean
Tournaisian
Devon* Atas Fanenian
Frasnian
Bawah Emsian
Siegenian
Gedennian
Silur** Downtonian
Ludlovian
Wenlockian
Llandoverian
Ordovisium** Atas Ashgillian
Caradocian
Bawah Llandeillian
Llanvirnian
Arenigian
Tremadocian
Kambrium** Atas postdamian
Tengah Acadian
Bawah Georgisan
Keterangan: * = Paleozoikum Atas
** = Paleozoikum Bawah
Tabel 4. Jangka Waktu Skala Waktu geologi
ZAMAN KALA JANGKA WAKTU (x 106 Tahun yang lalu)
Kwarter Holosen Sekarang - ?
Pleistosen ? - 0,6
Tersier Pliosen 0,6 - 11
Miosen 11 - 25
Oligosen 25 - 40
Eosen 40 - 60
Paleosen 60 - 70
Kapur Lihat Tabel 2 70 - 135
Jura 135 - 180
Trias 180 - 225
Perm Lihat Tabel 3 225 - 270
Pensylvanian 270 - 330
Mississipian 330 - 350
Devon 350 - 400
Silur 400 - 440
Ordovisium 440 - 500
Kambrium 500 - 600
Pra-Kambrium 600 - 4500


Hubungan Geologi dengan Ilmu Lain
Proses-proses yang bekerja di permukaan bumi sangat erat hubungannya dengan hukum-hukum fisika, kimia dan biologi (lihat gambar 1).
Gambar 1.

Hubungan antara geologi dengan ilmu lain:
Ilmu Kimia : Geokimia
Ilmu Fisika : Geofisika
Ilmu Biologi : Paleontologi
 Hubungan Geologi dengan Geografi
Geografi adalah ilmu yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat bumi, menganalisa gejala-gejala alam dan penduduk serta mempelajari corak khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi unsur-unsur bumi dalam ruang dan waktu (Bintarto)
Geologi mengandung pengertian ilmu tentang planet bumi, geo-nya diartikan Earth (bumi), sedang Geografi mengandung pengertian ilmu yang menguraikan bumi dan manusia sebagai penghuninya, geo-nya lebih tepat diartikan World (dunia = bumi dan manusia). Obyeknya sama (bumi), namun titik pandang keduanya berbeda.
Oleh karena itu, pengetahuan Geologi sangat membantu Geografi dalam kajian hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan alamnya, sehingga Geologi merupakan ilmu bantu bagi Geografi.


BAB II
PLANET BUMI

Bumi merupakan salah satu planet yang ada dalam sistem tatasurya bima sakti di jagadraya.
Tatasurya atau Solar System adalah suatu sistem yang terdiri ari matahari dan planet-planet serta benda-benda angkasa yang berputar mengitarinya.
Pembentukan Tatasurya Model Nobular

Sistem Tatasurya diawali dari awan gas yang berputar.
Perputaran menimbulkan gaya sentrifugal yang menarik ke arah luar, sedang gaya berat cenderung menarik gas-gas ke dalam ke arah matahari. Akibat kedua gaya yang berlawanan ini perlahan-lahan menjadikan awan gas membentuk awan gas berbentuk datar, membentuk piringan gas yang berputar di sekitar matahari yang disebut Nebula Planetaria.

Sebagian besar massa terkonsentrasi di pusat dan membentuk matahari, sisa material berakumulasi dan terkonsentrasi membentuk planet-planet.

Tata surya saat ini.


STRUKTUR BUMI
Struktur bumi diketahui dengan mempelajari sifat gelombang gempa bumi, yaitu dengan mempelajari waktu tempuh perambatan gelombang yang diperhitungkan berdasarkan jarak tempuh dan waktu yang diperlukan. Hasilnya, ternyata bervariasi tergantung dari densitas (berat jenis) media yang dilaluinya.
Kesimpulannya: Bumi tidak merupakan suatu bulatan yang homogen, melainkan terdiri dari beberapa lapisan yang konsentris dengan densitas berbeda. Densitas terbesar terakumulasi di pusat dan mengecil menjauhi dari pusat.
Penampang Bumi:




Bagian Bumi
1. Kerak Bumi (Earth Crust).
- Sering disebut Litosfer.
- Densitas rata-rata 2,7 Gram/cc
- Ketebalannya tidak merata. Daerah Pegunungan: > 70 Km; Daerah Kontinen: berkisar 30 – 40 Km; Daerah Samudera: < seismos =" gempa" m =" log" m =" Skala" t =" Waktu" x =" Amplitudo" y =" Faktor" terendah =" getaran" tertinggi =" hancurnya"> 8 XII Hancur total, gelombang terlihat di permukaan tanah dan benda” terlempar ke udara
Sumber: Skinner, 1992

Bahaya Gempa Bumi
a. Akibat langsung dari goncangan permukaan tanah dan pensesaran:
1. Bergeraknya tanah akibat gempa, terutama gelombang permukaan di lapisan” batuan di permukaan dan regolith, berakibat dapat merusak bahkan kadang” menghancurkan bangunan
2. Bila permukaan tanah tersesarkan, bangunan” terbelah, jalan terputus dan segala sesuatu yang dilalui sesar terbelah.

b. Akibat tidak langsung dari goncangan yang mengakibatkan kerusakan:
1. Kebakaran. Dapat terjadi karena adanya goncangan menumpahkan kompor, mematahkan saluran gas, memutus kabel listrik dan pipa air.
2. Pada daerah berlereng curam, terjadi regolith meluncur ke bawah, tebing” ambruk dan gerakan tanah longsor, mengakibatkan rumah, jalan dan struktur bangunan hancur.
3. Goncangan mendadak pada sedimen dan regolith yang jenuh air dapat mengubah tanah yang padat menjadi seperti massa cair (quicksand). Prosesnya disebut liquefaction, yang menyebabkan amblesnya bangunan.
4. Terjadinya gelombang laut seismik atau tsunami (Jepang: gelombang pelabuhan).
Gempa pada lantai samudera menyebabkan air laut bergerak dengan cepat (sampai 950 km/jam). Di laut terbuka gelombang tidak tampak, karena amplitudonya hanya beberapa meter tetapi dengan panjang gelombang sampai 200 km. Setelah mencapai tempat yang dangkal akan membentuk gelombang dengan amplitudo yang sangat tinggi, sampai 30 meter.



BAB VI
BATUAN DAN MINERAL

Batuan (rock) mempunyai pengertian yang luas dan berbeda dengan batu (stone).
Batuan mencakup material yang membentuk litosfir atau kerak bumi, terdiri dari mineral-mineral pembentuk batuan.
BATUAN
Batuan ialah segala macam material padat yang menyusun kulit bumi/kerak bumi, baik yang telah padu maupun masih lepas.
Material padat dapat terjadi dari agregat mineral yang tersusun oleh 1 macam mineral maupun dari berbagai mineral.
Batu ialah material padat dari agregat mineral yang telah padu.
MINERAL
Mineral merupakan suatu unsur atau persenyawaan anorganik yang terbentuk secara alami, yang memiliki struktur internal teratur, komposisi kimia, bentuk kristal dan sifat fisik tertentu yang menjadi karakteristiknya.
 Pengelompokan batuan yang paling sederhana adalah berdasarkan kejadiannya atau cara terbentuknya (genesanya) terbagi menjadi 3 kelompok utama, yaitu:
1. Batuan Beku (igneous rock), terbentuk dari magma yang mendingin dan membeku
2. Batuan Sedimen, merupakan batuan yang terbentuk dari sedimen yang diendapkan dan telah mengalami proses geologi menjadi batuan sedimen.
3. Batuan Metamorfosa atau Batuan Malihan, merupakan batuan yang telah mengalami perubahan bentuk fisik maupun kimiawi akibat mengalami tekanan dan atau suhu yang tinggi.
Berbagai Jenis Batuan Penyusun Kerak Bumi
Batuan Berat Jenis (Gram/Cm3)
Granit 2,5 – 2,7
Andesit 1,6 – 2,6
Diorit 2,8 – 2,9
Gabro 3,0
Peridotit 2,6 – 2,8
Dunit 3,2 – 3,3
Batu Pasir 2,2 – 2,8
Batu Gamping 2,5 – 2,7
Marmer 2,7
Gneis 2,6 – 3,1
Sumber: Doddy, 1987: 1

Daur Batuan


Proses Pelapukan (weathering) :
Proses terdisintegrasi dan terdekomposisinya batuan di permukaan bumi akibat bersentuhan langsung dengan atmosfer.
Proses Sedimentasi / Pengendapan :
Proses ditransport dan diendapkannya material hasil endapan oleh berbagai media erosi, seperti: gaya grafitasi, aliran air, gletsyer, angin atau gelombang sebagai sedimen atau endapan.
Proses Litifikasi :
Proses berubahnya sedimen menjadi batuan sedimen.

BATUAN BEKU
1. Pembagian genetik batuan beku didasarkan pada genesa atau tempat terjadinya batuan beku, terdiri dari:
a. Batuan Ekstrusi, terdiri dari semua material magma yang dikeluarkan ke permukaan bumi baik di daratan maupun di bawah permukaan laut, materialnya mengalami proses pendinginan dengan cepat, contohnya: riolit, trahkit, andesit, dasit, latit dan basal.
b. Batuan Intrusi, terdiri dari semua material magma yang menyusup di dalam perlapisan kerak bumi dan mengalami pembekuan dengan proses pendinginan yang sangat lambat, contohnya: granit, syenit, diorit, tonalit, monsonit dan gabro.
Batuan intrusi yang sejajar dengan perlapisan kerak bumi disebut Konkordan, sedang
Batuan intrusi yang memotong dengan perlapisan kerak bumi disebut Diskordan.

2. Pembagian kimia batuan beku, didasarkan pada senyawa-senyawa kimia yang membentuk mineral dari batuan beku. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan kimianya didasarkan pada senyawa oksidanya, seperti SiO3 dan MgO.

Komposisi Kimia beberapa Batuan Beku
Oksida Granit Diorit Gabro Peridotit
SiO3 72,08% 51,86% 48,36% 43,54%
MgO 0,52% 6,12% 8,06% 34,02%


Pembagian Batuan Beku berdasarkan Kandungan Silika
Nama Batuan Kandungan Silika (%)
Batuan Beku Asam > 66
Batuan Beku Menengah 52 – 66
Batuan Beku Basa 45 – 52
Batuan Beku Ultra Basa < 45


3. Struktur Batuan Beku adalah pembagian batuan beku berdasarkan bentuk batuan beku dan proses kejadiannya, yang terbagi menjadi:
a. Struktur Bantal (pillow structure) adalah struktur yang dinyatakan pada batuan ekstrusi tertentu yang dicirikan oleh massa batuan yang berbentuk bantal, berukuran antara 30 – 60 cm dan biasanya jarak antar bantal berdekatan dan terisi oleh bahan-bahan dari sedimen klastik, terbentuk di dalam air dan umumnya terbentuk di laut dalam.

b. Struktur Vesikular adalah struktur pada batuan ekstrusi yang terdapat rongga-rongga yang berbentuk elip, silinder maupun tidak beraturan. Terbentuknya rongga-rongga terjadi akibat keluarnya/dilepaskannya gas-gas yang terkandung di dalam lava setelah mengalami penurunan tekanan.
c. Struktur Aliran, terjadi akibat lava yang disemburkan tidak ada yang dalam keadaan homogen, karena saat lava menuju ke permukaan selalu terjadi perubahan komposisi, kadar gas, kekantalan, dan derajat kristalisasi. Struktur aliran dicerminkan dengan adanya goresan berupa garis-garis yang sejajar, perbedaan warna dan teksturnya.
d. Struktur Kekar, adalah bidang-bidang pemisah/retakan yang terdapat dalam semua jenis batuan, biasanya disebabkan oleh proses pendinginan tetapi ada yang disebabkan oleh gerakan-gerakan di dalam bumi yang berlaku sesudah batuan mengalami pembekuan.
Retakan-retakan yang memotong sejajar dengan permukaan bumi menghasilkan struktur perlapisan, sedang yang tegak lurus dengan permukaan bumi akan menghasilkan struktur bongkah.
Retakan dapat pula membentuk kolom-kolom yang dikenal dengan struktur kekar meniang (columnar jointing), hal ini disebabkan karena adanya pendinginan dan penyusutan yang merata dalam magma dan dicirikan oleh perkembangan retakan membentuk segi empat, segi lima atau segi enam, umumnya terdapat pada batuan basal.



BATUAN SEDIMEN
1. Klasifikasi Batuan Sedimen
Dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang didasarkan pada cara terbentuknya, sehingga setiap kelompok mempunyai tempat pengendapan tersendiri, mulai dari pengendapan di lingkungan darat, sungai, danau dan laut.

a. Batuan Sedimen Detritus (Klastik)
Diendapkan dengan proses mekanis baik di lingkungan darat atau air dan terbagi dalam 2 golongan berdasarkan ukuran besar butirnya, yaitu:
1) Golongan Detritus Kasar, mempunyai ukuran butir yang besar
2) Golongan Detritus Halus, mempunyai ukuran butir yang halus

Sedimen Pengendapan
Detritus Kasar Breksi
Dapat diendapkan langsung dari ledakan gunungapi dan tersebar disekitar gunung, serta dapat diendapkan di lingkungan air seperti sungai, danau dan laut
Konglomerat Biasanya diendapkan di lingkungan sungai
Batu Pasir Biasanya diendapkan di lingkungan laut
Detritus Halus
Batu Lanau, Serpih, Batu Lempung dan Napal Pada umumnya diendapkan di lingkungan laut, dari laut dangkal sampai laut dalam.


b. Batuan Sedimen Evaporit
Proses terjadinya harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat, umumnya terjadi pada lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga terjadi pengayaan unsur-unsur tertentu, contohnya: batuan gips, anhidrit, dan batu garam.
c. Batuan Sedimen Batubara
Terbentuk dari unsur-unsur organik, yaitu dari sisa-sisa tumbuhan yang terendapkan di lingkungan laut dan tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal di atasnya, sehingga mengalami perubahan akibat adanya tekanan dan panas.
d. Batuan Sedimen Silika
Terbentuk karena adanya gabungan antara proses organik seperti radiolaria atau diatom dengan proses kimiawi dalam penyempurnaannya, contohnya: batuan rijang (chert), radiolaria dan tanah diatom.

e. Batuan Sedimen Karbonat
Terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera atau lainnya yang bercangkang dari kapur pada lingkungan laut litoral sampai bathial, contohnya: batuan gamping/kapur dan dolomit.
2. Struktur Batuan Sedimen
adalah sifat-sifat dari kenampakan yang mudah diamati/dipelajari pada singkapan batuan sedimen yang merupakan hasil manifestasi dari proses sedimentasi dari proses fisika (seperti: angin, air dan arus), proses kimia (seperti: konkresi) dan proses organis (seperti: jejak binatang).
Sifat yang langsung dapat diamati dengan mata telanjang adalah unsur perlapisan. Selain itu, intensitas arus mempengaruhi pengendapan dalam skala butir, dan stratifikasi menunjukkan proses terbentuknya lapisan di lingkungan pengendapan.
Stratum adalah suatu lapisan yang dapat dibedakan dengan lapisan di atasnya atau dibawahnya berdasarkan sifat fisik, bidang non sedimentasi dan lainnya.
Cross Stratum (lapisan silang siur) adalah lapisan yang membentuk sudut terhadap lapisan yang berada di atas atau di bawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, bidang non sedimentasi atau sifat fisik lainnya.
Set adalah cross strata atau strata yang dipisahkan dari strata lainnya dengan bidang erosi, bidang non sedimentasi atau sifat fisik lainnya.
Coset merupakan gabungan dari beberapa set, sedang Composite Set merupakan gabungan dari beberapa coset.
Tabular cross Bedding adalah suatu set yang bidang sentuhnya bukan merupakan bidang erosi, tetapi merupakan bidang datar yang merupakan bidang non sedimentasi.
Planar Cross Bedding adalah suatu set dimana bidang sentuhnya bukan merupakan bidang datar, melainkan bidang miring serta merupakan bidang non sedimentasi.
Trough Cross Bedding merupakan suatu set dimana bidang sentuhnya berupa bidang lengkung yang merupakan bidang erosi.

Berdasarkan asalnya, struktur sedimen dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
a. Struktur Sedimen Primer, terbentuk karena proses sedimentasi yang dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya.
b. Struktur Sedimen Sekunder, terbentuk sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagenesa, juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan, misalnya: keadaan dasar, lereng dan lingkungan organis.
c. Struktur Sedimen Organik, terbentuk oleh kegiatan binatang, seperti: moluska, cacing atau binatang lainnya.

Klasifikasi Struktur Batuan Sedimen
Inorganic Structure Organic Structure
Mechanical (Primary) Chemical (Secondary)
A. Bedding: geometry
1. Laminations
2. Wavy bedding A. Solution structures
1. Stylolites
2. Corrosion zones
3. Vugs, Oolicasts, etc. A. Petrifactions
B. Bedding internal structures
1. Cross-bedding
2. Ripple-bedding
3. Graded-bedding
4. Growth-bedding B. Accretionary structures
1. Nodules
2. Concretions
3. Crystal aggregates
4. Veinlets
5. Color banding B. Bedding (weedia and other stromatolites)
C. Bedding-plane markings (on sole)
1. Scour or current marks (flutes)
2. Tool marks (grooves, etc.) C. Composite structures
1. Geodes
2. Septaria
3. Cone in cone C. Miscellaneous
1. Borings
2. Tracks and trails
3. Casts and molds
4. Fecal pellets and coprolities
D. Bedding-plane markings (on surface)
1. Wave and swash marks
2. Pits and prints (rain, etc.)
3. Parting lineation
E. Deformed bedding
1. Load and founder structures
2. Synsedimentary folds and breccias
3. Sandstone dikes and sills



BATUAN METAMORFOSA

Metamorfosa adalah proses rekristalisasi batuan di kedalaman kerak bumi (3 – 20 Km) yang keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat yaitu tanpa melalui fasa cair, sehingga terbentuk struktur dan mineralogi baru yang sesuai dengan lingkungan fisik baru pada tekanan (P) dan temperatur (T) tertentu.
 Batuan metamorfosa dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Metamorfosa Kontak (termal) adalah perubahan mineral batuan membentuk mineral batuan yang baru yang lebih stabil akibat adanya panas yang secara intensif dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi.
b. Metamorfosa Dinamis (kataklastik) adalah perubahan mineral batuan membentuk mineral batuan yang baru akibat adanya tekanan yang besar.
c. Metamorfosa Regional adalah perubahan mineral batuan yang terkubur sangat dalam pada daerah yang sangat luas akibat adanya panas dan tekanan yang besar, sehingga membentuk mineral batuan baru yang lebih stabil.

Pembentukan Batuan berdasarkan Temperatur dan Kedalaman
Temperatur (oC) Tahapan Kedalaman (Km) Proses
20 Sedimentasi 0 Proses permukaan
100 Diagenesa 5 Saling melingkup
200 Metamorfosa 10 – 30 Proses metamorfosa
650 Sebagian meleleh 35 – 40 Saling melingkup
800 - 1200 Larutan magma 50 - 100 Proses batuan beku

DAFTAR BUKU ACUAN

Doddy Setia Graha, 1987. Batuan dan Mineral. Nova, Bandung.
Brian J. Skinner, Stephen C. Porter, 1992. The Dynamic Earth, an introduction to physical geology 2nd edition. John Wiley & Sons, Inc.
Noer Aziz M. Dkk., 2002. Geologi Fisik. ITB, Bandung.
Soenarto Tjitrowinoto, 1984. Dasar-dasar Geologi. IKIP Malang, Malang.
Sukandarrumidi, 1994. Geologi Sejarah. Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.
Sunarto, 2000. Geologi Dasar I. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.
Katili J.A. & Mark P., 1963. Geologi. Departemen Urusan Research Nasional, Jakarta.
Arthur Holmes, 1965. Principles of Physical Geology. The English Language Book Society and Nelson.
Herman Darman & F. Hasan Sidi, 2000. An Outline of The Geology of Indonesia. Indonesian Association of Geologists.